Tampilkan postingan dengan label Go Green..... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Go Green..... Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Mei 2010

Badai Matahari Kuat pada 2012 akan Menyerang



Menurut laporan website Inggris “New Scientist”, maksud dari badai matahari atau solar storm adalah siklus kegiatan peledakan dahsyat dari masa puncak kegiatan bintik matahari (sunspot), biasanya setiap 11 tahun akan memasuki periode aktivitas badai matahari. Ilmuwan Amerika baru-baru ini memperingatkan bahwa pada tahun 2012 bumi akan mengalami badai matahari dahsyat (Solar Blast), daya rusakanya akan jauh lebih besar dari badai angin “Katrina”, dan hampir semua manusia di bumi tidak akan dapat melepaskan diri dari dampak bencananya.



Badai Matahari Kuat pada 2012 akan Menyerang

Pada 22 September 2012 tengah malam, langit New York, Manhattan Amerika Serikat akan tertutupi oleh seberkas layar cahaya yang warna-warni.Di wilayah selatan New York ini, sangat sedikit orang yang dapat melihat fenomena aurora ini. Namun, perasaan menikmati indahnya pemandangan alam ini tidak akan berlangsung lama. Setelah beberapa detik, semua bola lampu listrik di wilayah tersebut mulai gelap dan berkedip tak menentu, kemudian sinar cahayanya dalam seketika tiba-tiba bertambah terang, dan cahaya bola lampu menjadi luar biasa terang. Selanjutnya, semua lampu mati. 90 detik kemudian, seluruh bagian Timur Amerika Serikat akan mengalami pemadaman listrik. Setahun kemudian, jutaan orang Amerika mulai mati, infrastruktur negara akan menjadi timbunan puing. Bank Dunia akan mengumumkan Amerika berubah menjadi negara berkembang. Pada saat yang sama, Eropa, China dan Jepang dan daerah lain atau negara juga akan sama seperti Amerika Serikat, berjuang dalam bencana sekali ini. bencana ini datang dari badai matahari atau solar storm yang dahsyat, terjadi pada permukaan matahari yang berjarak 150 juta km dari bumi.



Alat Deteksi Amerika Berhasil Mengambil Foto Badai Matahari

Mungkin cerita di atas kedengarannya mustahil, dalam keadaan normal matahari tidak akan bisa menyebabkan bencana besar seperti itu pada bumi. Namun, laporan khusus yang dikeluarkan oleh National Academy of Sciences, Amerika Serikat pada bulan Januari 2009 menyatakan bahwa bencana seperti ini sangat mungkin bisa terjadi. Studi tersebut disponsori oleh NASA. Dalam beberapa dekade, dalam perkembangan masyarakat manusia, peradaban Barat telah menanamkan bibit-bibit untuk kehancuran mereka sendiri. Cara hidup modern secara berlebihan yang sangat tergantung pada ilmu pengetahuan dan teknologi, secara tidak sengaja membuat kita lebih banyak terperangkap dalam suatu kondisi yang super berbahaya. Plasma balls yang dipancarkan dalam letusan permukaan matahari mungkin bisa menghancurkan jaringan listrik kita, sehingga mengakibatkan bencana dahsyat. Daniel Becker dari University of Colorado seorang ahli cuaca angkasa adalah pencetus laporan khusus dari Academy of Sciences Amerika Serikat, “Sekarang ini kita semakin dekat dengan kemungkinan bencana ini. Jika manusia tidak dapat mempersiapkan diri deng-an matang terhadap bencana badai matahari yang akan menimpa ini. Badai matahari ini mungkin akan memutuskan pasokan listrik umat manusia, sinyal ponsel, bahkan termasuk sistem pasokan air.”
Namun demikian, ada beberapa ahli yang menyatakan pandangan yang berbeda, mereka mempertimbangkan dampak badai matahari terutama terkonsentrasi di luar ruang angkasa, dan karena efek rintangan medan magnetik bumi dan atmosfir, pengaruh gangguannya tidak akan terlalu nyata terhadap kehidupan di bumi. Para ahli mengatakan, ketika aktivitas badai matahari aktif, akan terus menerus terjadi pembakaran dan peledakan pada sunspot, pada saat sejumlah besar sinar ultraviolet dilepaskan akan menyebabkan densitas lapisan ionosfir di atas angkasa bumi meningkat mendadak, menyerap habis energi gelombang pendek, sehingga gelombang pendek sinyal radio terganggu. Tetapi ponsel yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk transmisi sinyal radio tidak melalui lapisan ionosfir, sehingga pada umumnya dampak badai matahari terhadap komunikasi di permukaan bumi tidak akan signifikan. Secara teori, pada umumnya intensitas badai matahari tidak akan bisa menerobos perlindungan atmosfer dan medan magnetik bumi, hingga secara fatal mengancam spesies yang berada di bumi. Tetapi untuk badai matahari tahun 2012 para ahli khawatir mungkin menjadi pengecualian.

Mungkin Membawa Dampak Bencana Besar pada Bumi

Ilmuwan Amerika Serikat memperingatkan bahwa, pada 2012 badai matahari yang kuat di bumi akan membawa malapetaka besar pada manusia, yang akan mempengaruhi setiap aspek pada masyarakat modern sekarang. Para ahli yang mengeluarkan peringatan meng-atakan, dampak badai matahari pada bumi kemungkinan adalah “efek domino”. Coba pikirkan, bila jaringan listrik menjadi rapuh dan tidak stabil, hal-hal yang berhubungan dengan bisnis pasokan listrik juga akan menjadi korban: peralatan refrigeration berhenti, makanan dan obat-obatan yang tersimpan dalam ruang berpendingin dalam jumlah besar akan kehi-langan kondisi penyimpanan dan rusak; pompa tiba-tiba berhenti berfungsi, air minum pada masyarakat akan menjadi masalah. Selain itu, karena gangguan pada sinyal satelit, sistem posisi GPS akan menjadi sampah. Sebenarnya pada awal 1859 pernah terjadi kasus serupa, peledakan badai matahari saat itu bahkan me-ngakibatkan jaringan telegram terbakar rusak. Tentu saja sekarang ini di bumi sudah dipenuhi oleh fasilitas kabel dan nirkabel, tetapi fasilitas ini sulit menahan ujian badai matahari.
Ketika badai matahari kuat menyerang, umat manusia di bumi akan menghadapi dua masalah besar. Pertama, adalah tentang masalah jaringan listrik modern sekarang. Jaringan listrik modern sekarang pada umumnya menggunakan tegangan tinggi untuk mencakup daerah lebih luas, ini akan memungkinkan operasi jaringan listrik lebih efisien, Anda bisa mengurangi kerugian selama transmisi listrik, juga kerugian listrik karena produksi yang berlebihan. Namun, secara bersama ia juga menjadi lebih rentan terhadap serangan cuaca ruang angkasa. transmisi jaringan akan menjadi sangat rentan dan tidak stabil, atau bahkan mungkin menyebabkan terhenti secara total. dan ini hanya merupakan efek domino yang pertama, selanjutnya mungkin juga akan menyebabkan “lalu lintas lumpuh, komunikasi terputus, industri keuangan runtuh dan fasilitas umum kacau; pompa berhenti menyebabkan pasokan air minum terputus, kurangnya fasilitas pendingin, makanan dan obat-obatan sulit disimpan secara efektif. Para ilmuwan telah memperkirakan bila ada intensitas badai matahari kuat mungkin dapat menyebabkan kerugian sosial dan ekonomi manusia, hanya pada tahun pertama saja kerugiannya mencapai 1-2 triliun dollar AS, sementara pemulihan dan rekonstruksinya diperlukan setidaknya 4-10 tahun
Isu yang kedua adalah tentang masalah sistem jaringan listrik yang saling ketergantungan yang dukungan kehidupan modern kita, seperti masalah air dan penanganan limbah, masalah infrastruktur logistik supermarket, masalah pengendalian gardu listrik, pasar keuangan dan lainnya yang tergantung pada listrik. Jika dua masalah digabung jadi satu, kita dapat dengan jelas melihat bahwa peristiwa kemungkinan muncul kembalinya badai matahari Carrington sangat mungkin akan menyebabkan bencana besar yang langka. Adviser laporan khusus dari National Academy of Sciences Amerika Serikat dan analis daya listrik industri John Kappenman menganggap “Bencana seperti ini dibandingkan dengan bencana yang biasa kita bayangkan secara total berlawanan. biasanya wilayah kurang berkembang rawan serangan bencana, namun dalam bencana ini, wilayah yang semakin berkembang lebih rentan terhadap serangan bencana.”

Manusia Belum Mempersiapkan Diri

Menghadapi kemungkinan bencana serius yang akan me-nimpa, Amerika Serikat dan seluruh umat manusia tidak segera merespon untuk mempersiapkan pekerjaan secara baik dalam menghadapi putaran badai matahari berikutnya. Becker me-ngatakan bahwa karena kemungkinan terjadinya skala besar badai matahari sangat kecil, “Seluruh masyarakat bahkan tidak menanggapinya, namun hanya memperhatikan masalah di hadapan mata”. Terhadap cuaca di bumi, para ahli cuaca dapat melacak badai yang akan menimpa selama beberapa hari ke depan, dan mengeluarkan peringatan yang sesuai kepada penduduk setempat, namun badai matahari atau cuaca ruang angkasa benar-benar berbeda. Backer mengatakan bahwa sekarang ini kita masih tidak dapat memprediksi secara akurat waktu dan kekuatan badai matahari, yang dapat diprediksi oleh saya dan rekan saya hanya jika sebuah badai matahari besar menyerang, kami secara mutlak tidak mampu menanganinya.”
Ini mirip dengan peringatan dini bencana angin topan dan manusia di bumi, dewasa ini umat manusia terutama tergantung pada prediksi dari siklus sunspot untuk memantau intensitas badai matahari serta dampaknya pada bumi. Yang dimaksud dengan sunspot adalah proses peningkatan dan pengurangan yang berarti dalam jumlah sunspot setiap 11 tahun. Siklus dihitung mulai dari aktivitas terendah sunspot pada matahari. Dalam masa aktif sunspot akan meningkat, badai matahari yang terjadi akan lebih banyak. Ketika badai matahari terjadi, partikel kecepatan tinggi serta aliran ion yang terbentuk oleh partikel bermuatan listrik yang dipancarkan secara besar-besaran oleh matahari akan berpengaruh terhadap lapisan medan magnit bumi, ionosfir serta kondisi atmosfir netral. Dalam masalah dampak bahaya badai matahari, lebih dari satu abad, orang-orang terus memantau kegiatan sunspot.
Berdasarkan fenomena yang terjadi di atas permukaan matahari serta data bintik matahari siklus yang terjadi sebelumnya, para ilmuwan dari National Center for Atmospheric Research, NCAR, Amerika Serikat, berhasil mengembangkan sebuah model baru ilmu dinamika solar. Dengan model baru, para astronom dapat memberikan peringatan secara dini dari aktivitas sunspot matahari. Mereka berharap bahwa peringatan dini dapat membantu perusahaan-perusahaan listrik, para pengendali satelit dan aspek lainnya dalam beberapa hari atau bahkan tahun-tahun sebelumnya agar bisa bersiap-siap menghadapai kegiatan sunspot matahari. Menurut informasi, ketepatan model baru ini dapat mencapai akurasi 98%. Richard Enke dari National Science Foundation, Departemen Atmospheric Research Amerika Serikat mengatakan bahwa jika dapat secara dini memprediksi aktivitas badai matahari, orang-orang akan dapat dengan baik menanggulangi gangguan seperti komunikasi, kegagalan satelit, pemadaman listrik, serta ancaman terhadap astronot dan hal-hal lain.

Minggu, 04 April 2010

Frozen Fish Help Reel in Germany's Wind Power


Frozen Fish Help Reel in Germany's Wind Power


Wind turbines spin during a storm near Cuxhaven, Germany. Storing the power has been a challenge.
Photograph by Ingo Wagner, Corbis


Andrew Curry
Published April 2, 2010
Cuxhaven, a small city on Germany’s blustery North Sea coast, has ample supplies of fish and wind. A new project is exploring how these two abundant resources can work together to solve some of the problems that have bedeviled Germany’s renewable energy drive.
In short, Germany’s electric grid operators need a place to store all that wind power. And in Cuxhaven, they think they’ve found an answer -- in frozen fish.
One of renewable energy’s most vexing issues is the sheer variability of wind and solar power. It’s a headache for managers of the power system, whose customers need a steady, predictable stream of electricity. Germany is feeling the pain as a leader in alternative power, with 7 percent of its electricity fromwind energy -- one of the highest rates in the world.
“Sometimes there’s a high feed-in of wind power, and at other moments, renewables can only take a small part,” says Wolfram Krause, a researcher at Germany’s EWE power company and manager of Cuxhaven’s 20 million euro ($27 million) eTelligence pilot project, half of which is funded by the German government. “We need to damp out fluctuations of wind power,” he says, “and this is what cold storage can do.”
Deep Power Freeze
In a 5.5-million cubic foot (155,742 cubic meter) warehouse at the mouth of the Elbe River, Cuxhaven’s Erwin GOOSS warehouse unloads and stores the catch from fishing boats sailing in the North Sea. Ordinarily, the warehouse needs to be kept at a chilly -4 F (-20 C). But the temperature inside can be pushed as low as -22 F (-30 C) when local windmills are spinning. The deep freeze gives the warehouse breathing room at times when the wind -- and the power -- dies down. Then, if allowed to warm slowly, the facility still will stay cold enough for the frozen fish. “It’s not that we’re using less power, it’s just that we’re using it when it’s cheaper,” GOOSS technical director Gunter Krins says.
In the summer, the well-insulated warehouse warms about 2 degrees F (1.1 degrees C) every 24 hours when the cooling is turned off. In the winter, the building warms at about half that rate. Depending on the season, that means the shelves stacked with frozen fish can “store” energy equivalent to a week’s worth of refrigeration.
Krins’ warehouse isn’t alone. The pilot project, launched in November 2008, aims to connect all types of power users and electricity providers over the Internet. Hundreds of smart meters that monitor energy usage multiple times per second and transmit the information to an iPod touch have been distributed to local homes.
Major power consumers like the local wastewater treatment facility and the local pool are getting in on the act--adjusting how much electricity they use depending on how hard the wind is blowing. A sophisticated communications network lets people know when power is cheap and when to conserve. “We’ve built a measurement and information control infrastructure that can suck up all this data and give it to all the actors,” Krause says.
Curbing Wind Waste
The hope is that projects like eTelligence will help Germany curb a costly kind of energy waste. By law, German renewable energy producers are guaranteed a certain price for wind and solar power. That has helped Germany create a thriving renewable energy industry, but meshing it into a system accustomed to steady power -- like that from coal power plants -- has been a challenge. “Right now, we’re switching off wind farms if we have too much power in our grid,” says Oliver Weinmann, innovation manager for power company Vattenfall. That essentially means that consumers, through their utility bills, are paying wind farms not to produce energy. “It’s not a very good situation,” Weinmann says. “We have to find a solution to integrate all this wind power in our grid.”
Local efforts like eTelligence are catching on. Initially, Krause says, Cuxhaven’s fish warehouse owners were skeptical. But when it became clear that there was money involved -- cooling primarily during hours of peak wind production will be cheaper than just drawing electricity at all hours -- the proposal became a lot more appealing.
Over the next year, Krause and Krins will be closely watching the warehouse’s savings. “We need to see what the savings are,” Krins says. “But it’s a good idea – we’ve got plenty of wind right outside the door.”

Kamis, 01 April 2010

Solar Brings Light to Haiti

Solar Brings Light to Haiti



Solar Power Brings Light to Quake-Darkened Haiti

Marianne Lavelle
National Geographic News
Published March 31, 2010

In the aftermath of the earthquake that devastated his country on January 12, Haitian businessman Alex Georges recalls both the darkness and the light.

From the Port-au-Prince house where he had been meeting with his business partner, Georges remembers stumbling into chaos: human suffering and a cloud of dust so thick that he could not see across the street.

But he also saw that at night, even though the shaken city had no electricity, there were bright islands of light—beneath the solar-powered street lamps that his company had installed at two sports fields. People were drawn to the glow and began to set up camps there.

Georges believes that solar energy can do more than provide temporary refuge for Haitians; he thinks it can be a permanent boon to the impoverished Caribbean nation.

As the co-founder of ENERSA (Energies Renouvelables S.A.), a three-year-old Port-au-Prince business that has manufactured and sold more than 500 LED solar streetlights with battery storage in 58 towns and villages throughout the island, Georges is one of a group of advocates and entrepreneurs pushing for greater use of solar, renewable, and other small-scale energy in the rebuilding of Haiti.

With a crucial meeting of representatives of more than a hundred countries taking place at the United Nations today to organize commitments for the rebuilding, renewable energy advocates have been urging relief organizations to direct aid toward more than simply rebuilding Haiti’s old power delivery system.

Energy Access

Before the earthquake, Haiti had one of the lowest rates of electricity access in the world, with only 12.5 percent of its population of nine million connected to the grid. Those who had money relied on small diesel fuel generators for electricity. The cost of diesel spiked after the earthquake, putting that form of power generation even further out of reach for most Haitians.

“Why saddle people with the variable costs and operating costs of diesel fuel?” asks Jigar Shah, chief executive of the Carbon War Room, the climate change advocacy organization founded by Virgin Atlantic billionaire Richard Branson. His group has calculated that solar and other small power systems could be installed throughout Haiti at a cost of $400 million, a fraction of the $11.5 billion in rebuilding funds that United Nations Secretary General Ban Ki-Moon has called for over the next decade.

Vijay Modi, an energy systems expert at Columbia University’s Earth Institute, which works to advance sustainable development, says that renewables can, indeed, play an immediate role in meeting the electricity needs of Haiti. But Haiti also has urgent energy needs for cooking as well as lighting and cell phone charging solutions.

When it comes to household cooking needs, Modi believes that in the short term, people would be more helped by distribution of kerosene or propane. In the longer term, he believes, there should be a focus on more sustainable land management practices to provide the wood and charcoal traditionally used for cooking in Haiti—fuels that can be renewable when well managed.

Renewable energy advocates working on the ground in Haiti agree that more efficient use of wood and charcoal will continue to be used in the short term for cooking, although biochar (charcoal from agricultural waste) could be a more environmentally friendly solution. They also worry about the use of kerosene for lighting in the short term for a reason more immediate than its impact on the climate—in addition to the harmful fumes, the fire hazard is acute in the tent camps where so many Haitians are now living.

Security Need

The tent camps, in fact, have turned to solar energy for yet another pressing need—security. Soon after the quake, renewable energy access specialist Richenda Van Leeuwen, of Washington, D.C., organized a donation by the Good Energies Foundation of 6,500 solar light systems that can be used now in tents—and later transferred to new homes.

Van Leeuwen, now working on relief in Haiti, says that the lighting has been vital in addressing the issue of assaults. Only last week, Amnesty International reported that sexual violence against women and girls was widespread in the camps, and called for more action from emergency responders and authorities. At least 35,000 solar lamp systems have been distributed to improve lighting in the camps so far, and Van Leeuwen says the International Organization for Migration is ordering 30,000 more to help with protection of women and girls in particular.

With Haiti’s infrastructure in tatters, and funds being raised around the world, many believe it is an ideal time to deploy new power for Haiti. For example, last summer, the nonprofit Partners In Health successfully had a solar system installed in its clinic in Boucan Carré, Haiti.

Although the clinic maintains its diesel generator system as backup and to ensure reliable power in its operating room and for the higher energy needs of its x-ray machine, its diesel fuel expenses have been slashed. After the quake, in fact, Partners asked the Washington, D.C.-based Solar Electric Light Fund (SELF), which is supported in part by the Good Energies Foundation, to accelerate a plan to install solar in five of its other clinics in Haiti.

“It’s very low maintenance, there’s no local pollution, no carbon dioxide, no noise,” says Bob Freling, executive director of SELF. “We have not completely dispensed with diesel, but reduced their reliance. It really empowers people.”

There have been other solar donations with an eye on empowerment. Texas-based FTL Solar has donated three large solar tents to be used by charities; these provide not only light but a source of income, since the charities will be able to earn money by setting up stations where people can pay to have their cell phones or batteries recharged.

Renewable energy activist and film producer Nicole Hansen, president of Green Galaxy Enterprises, helped coordinate the donation, remembering that she saw the solar tents in action at the site of films under production around Hollywood.

Job Creation

But Georges, of ENERSA, and company co-founder Jean-Ronel Noel, believe that what Haiti needs beyond donations of finished solar products is the money to build up its own capacity to make and install solar systems. The pair, after studying engineering, business administration, and solar fabrication in Canada, have trained 18 young men as solar technicians and are training a group of 10 more in hope of expanding their work force.

ENERSA workers have not only manufactured solar panels, lamps, charging stations, and streetlights, they’ve taken them to villages so remote that the equipment had to be hauled by donkey. “It is life-changing for people who did not have electricity whatsoever” to have the access to solar light, says Georges. “Children can study, and parents can meet and just socialize after dark. You can change the life of the community, instantly.”

ENERSA’s factory, which was damaged in the earthquake, is set to resume manufacturing this week.


Rabu, 31 Maret 2010

Pohon Terbesar di Dunia..........!!!

         Salah satu dari pohon-pohon paling tinggi di dunia dari jenis Giant Sequoia ini memiliki ketinggian mencapai 85 meter. Umurnya diperkirakan antara 2200 hingga 2700 tahun. Pohon ini diberi nama "Jenderal Sherman", diperkirakan bukan hanya merupakan salah satu yang tertinggi , tapi juga merupakan jenis Sequoia yang terbesar dalam hal volume-nya. Di tahun 2002 pohon ini pernah terukur volumenya yang sebesar 1487 meter kubik.




Pohon Sherman ini berlokasi di Taman Nasional Sequoia di Visalia, California, dinamakan demikian diambil dari nama seorang veteran perang sipil Amerika Jendral William Tecumseh Sherman. James Wolverton seorang Letnan pada kavaleri Indiana ke-9 di bawah pimpinan Sherman menamakan pohon ini dengan nama bos-nya pada tahun 1879. Pohon ini sebenarnya sudah dianugerahi gelar sebagai yang terbesar sejak tahun 1931 dilihat dari faktor volume-nya.

Diukur dari dimensinya, pohon Sherman ini mengindikasikan menjadi semakin besar tiap tahunnya. Diameternya 1,4 meter di atas tanah adalah 7,7 meter, diameter 18 meter di atas tanah adalah 5,3 meter, diameter 55 meter di atas tanah adalah 4,3 meter, dan ketinggian dahan pertama dari atas tanah adalah sekitar 40 meter.

Yang menarik, dahan terbesarnya patah pada tahun 2006. Bentuknya seperti huruf "L" menghunjam dari kira-kira seperempat ketinggian pohon. Dahan ini mempunyai diameter 2 meter dengan panjang 30 meter dan menghancurkan pagar yang dibuat di sekelilingnya. Meski demikian tetap saja pohon ini masih menjadi makhluk hidup terbesar di muka bumi yang masih hidup.



AMAZING..........!!!
dikutip dari: http://aneh-tapi-nyata.blogspot.com

Minggu, 28 Februari 2010



ENGLISH :Global warming is the increase in the average temperature of Earth's near-surface air and oceans since the mid-20th century and its projected continuation. Global surface temperature increased 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) between the start and the end of the 20th century. The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) concludes that most of the observed temperature increase since the middle of the 20th century was caused by increasing concentrations of greenhouse gases resulting from human activity such as fossil fuel burning and deforestation. The IPCC also concludes that variations in natural phenomena such as solar radiation and volcanism had a small cooling effect after 1950. These basic conclusions have been endorsed by more than 40 scientific societies and academies of science,[B] including all of the national academies of science of the major industrialized countries.

Climate model projections summarized in the latest IPCC report indicate that the global surface temperature is likely to rise a further 1.1 to 6.4 °C (2.0 to 11.5 °F) during the 21st century.[2] The uncertainty in this estimate arises from the use of models with differing sensitivity to greenhouse gas concentrations and the use of differing estimates of future greenhouse gas emissions. Most studies focus on the period up to the year 2100. However, warming is expected to continue beyond 2100 even if emissions stop, because of the large heat capacity of the oceans and the long lifetime of carbon dioxide in the atmosphere.[6][7]

An increase in global temperature will cause sea levels to rise and will change the amount and pattern of precipitation, probably including expansion of subtropical deserts.[8] Warming is expected to be strongest in the Arctic and would be associated with continuing retreat of glaciers, permafrost and sea ice. Other likely effects include increases in the intensity of extreme weather events, species extinctions, and changes in agricultural yields. Warming and related changes will vary from region to region around the globe, though the nature of these regional variations are uncertain.

Political and public debate continues regarding global warming, and what actions (if any) to take in response. The available options are mitigation to reduce further emissions; adaptation to reduce the damage caused by warming; and, more speculatively, geoengineering to reverse global warming. Most national governments have signed and ratified the Kyoto Protocol aimed at reducing greenhouse gas emissions.



BAHASA JAWA :Pamanasan global kuwi anané prosès mundhaké suhu rata-rata atmosfér, segara, lan dharatan bumi. Suhu rata-rata global ing lumahing bumi wis ningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) jroning satus taun pungkasan iki. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) nyimpulaké yèn, "sebagéyan gedhé paningkatan suhu hawa rata-rata global wiwit pertengahan abad kaping-20 kamungkinan gedhé disebabaké déning mundhaké konsentrasi gas-gas omah kaca akibat aktivitas manungsa"[1] liwat èfèk omah kaca. Kesimpulan dhasar iki wis diandharaké déning saora-orané 30 badan èlmiyah lan akademik, klebu kabèh akademi sains nasional saka negara-negara G8. Ananging, isih sisa sawetara èlmuwan sing ora setuju karo sawetara kesimpulan sing diandharaké déning IPCC kasebut. Modhèl iklim sing didadèkaké acuan déning projek IPCC nuduhaké suhu permukaan global bakal ningkat 1.1 nganti 6.4 °C (2.0 nganti 11.5 °F) antara taun 1990 lan 2100. Béda ing angka perkiraan iku disebabaké déning panggunaan skenario-skenario kang béda-béda ngenani emisi gas-gas omah kaca ing mangsa ngarep, sarta modhèl-modhèl sensitivitas iklim sing béda-béda. Senadyan sebagéyan gedhé panelitèn munjer marang periode nganti 2100, pamanasan lan mudhaking lumahing banyu segara dikira-kira bakal terus lumaku sajroning luwih saka sèwu taun senadyan tingkat emisi gas omah kaca wis stabil. Iki nggambaraké gedhéné kapasitas panas saka segara.

Mundhaké suhu global dikira-kira bakal nyebabaké owah-owahan liya kayadéné mundhaké lumahing banyu segara, mundhaké intensitas fenomena cuaca sing ekstrim, sarta owah-owahan gunggung lan pola presipitasi. Akibat-akibat pamanasan global sing liya yakuwi kapengaruhané kasil tetanèn, ilangé gletser, lan punahé werna-werna jinis kéwan. Sawetara bab-bab sing isih dadi ranguné para èlmuwan yakuwi ngenani gunggung pamanasan sing dikira-kira bakal kedadéyan ing mangsa ngarep, lan piyé pamanasan sarta owah-owahan sing dumadi kasebut bakal bervariasi saka siji dhaerah menyang dhaerah liyané. Nganti wektu iki isih ana wacana pulitik lan publik ing donya ngenani apa, yèn ana, tindakan sing kudu dilakoni kanggo ngurangi utawa mbalikaké pamanasan sabanjuré utawa kanggo adaptasi marang konsekwensi-konsekwensi sing ana. Sebagéyan gedhé pamarintahan negara-negara ing donya wis napak astani lan ngratifikasi Protokol Kyoto, sing ngarah marang pangurangan emisi gas-gas omah kaca.


PLEASE SAVE...... YOUR WORLD.........!!!!!!

Jumat, 26 Februari 2010

Asal usul planet Nibiru

Bagian luar Tata Surya masih memiliki banyak planet-planet minor yang belum ditemukan. Sejak pencarian untuk Planet X dimulai pada awal abad ke 20, kemungkinan akan adanya planet hipotetis yang mengorbit Matahari dibalik Sabuk Kuiper telah membakar teori-teori Kiamat dan spekulasi bahwa Planet X sebenarnya merupakan saudara Matahari kita yang telah lama “hilang”.
Tetapi mengapa cemas duluan akan Planet X/Teori Kiamat ini? Planet X tidak lain hanya merupakan obyek hipotetis yang tidak diketahui?
Teori-teori ini didorong pula dengan adanya ramalan suku Maya akan kiamat dunia pada tahun 2012 (Mayan Prophecy) dan cerita mistis Bangsa Sumeria tentang Planet Nibiru, dan akhirnya kini memanas sebagai “ramalan kiamat” 21 Desember 2012. Namun, bukti-bukti astronomis yang digunakan untuk teori-teori ini benar-benar melenceng.

Pada 18 Juni kemarin, peneliti-peneliti Jepang mengumumkan berita bahwa pencarian teoretis mereka untuk sebuah massa besar di luar Tata Surya kita telah membuahkan hasil. Dari perhitungan mereka, mungkin saja terdapat sebuah planet yang sedikit lebih besar daripada sebuah obyek Plutoid atau planet kerdil, tetapi tentu lebih kecil dari Bumi, yang mengorbit Matahari dengan jarak lebih dari 100 SA. Tetapi sebelum kita terhanyut pada penemuan ini, planet ini bukan Nibiru, dan bukan pula bukti akan berakhirnya dunia ini pada 2012. Penemuan ini penemuan baru dan merupakan perkembangan yang sangat menarik dalam pencarian planet-planet minor dibalik Sabuk Kuiper.

Dalam simulasi teoretis, dua orang peneliti Jepang telah menyimpulkan bahwa bagian paling luar dari Tata Surya kita mungkin mengandung planet yang belum ditemukan. Patryk Lykawa dan Tadashi Mukai dari Universitas Kobe telah mempublikasikan paper mereka dalam Astrophysical Journal yang menjelaskan tentang planet minor yang mereka yakini berinteraksi dengan Sabuk Kuiper yang misterius itu.
Kuiper Belt Objects (KBOs)

Sabuk Kuiper menempati wilayah yang sangat luas di Tata Surya kita, kira-kira 30-50 SA dari Matahari, dan mengandung sejumlah besar obyek-obyek batuan dan metalik. Obyek terbesar yang diketahui adalah planet kerdil (Plutoid) Eris. Telah lama diketahui bahwa Sabuk Kuiper memiliki karakteristik yang aneh, yang mungkin menandakan keberadaan sebuah benda (planet) besar yang mengorbit Matahari dibalik Sabuk Kuiper. Salah satu karakterikstik tersebut adalah yang disebut dengan “Kuiper Cliff” atau Jurang Kuiper yang terdapat pada jarak 50 SA. Ini merupakan akhir dari Sabuk Kuiper yang tiba-tiba, dan sangat sedikit obyek Sabuk Kuiper yang telah teramati dibalik titik ini. Jurang ini tidak dapat dihubungkan terhadap resonansi orbital dengan planet-planet masif seperti Neptunus, dan tampaknya tidak terjadi kesalahan (error) pengamatan. Banyak ahli astronomi percaya bahwa akhir yang tiba-tiba dalam populasi Sabuk Kuiper tersebut dapat disebabkan oleh planet yang belum ditemukan, yang mungkin sebesar Bumi. Obyek inilah yang diyakini Lykawka dan Mukai telah mereka perhitungkan keberadaannya.

Peneliti Jepang ini memprediksikan sebuah obyek besar, yang massanya 30-70 % massa Bumi, mengorbit Matahari pada jarak 100-200 SA. Obyek ini mungkin juga dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian obyek Sabuk Kuiper dan obyek Trans-Neptunian (TNO) memiliki beberapa karakteristik orbital yang aneh, contohnya Sedna.

Sejak ditemukannya Pluto pada tahun 1930, para astronom telah mencari obyek lain yang lebih masif, yang dapat menjelaskan gangguan orbital yang diamati pada orbit Neptunus dan Uranus. Pencarian ini dikenal sebagai “Pencarian Planet X”, yang diartikan secara harfiah sebagai “pencarian planet yang belum teridentifikasi”. Pada tahun 1980an gangguan orbital ini dianggap sebagai kesalahan (error) pengamatan. Oleh karena itu, pencarian ilmiah akan Planet X dewasa ini adalah pencarian untuk obyek Sabuk Kuiper yang besar atau pencarian planet minor. Meskipun Planet X mungkin tidak akan sebesar massa Bumi, para peneliti masih akan tetap tertarik untuk mencari obyek-obyek Kuiper lain, yang mungkin seukuran Plutoid, mungkin juga sedikit lebih besar, tetapi tidak terlalu besar.
“The interesting thing for me is the suggestion of the kinds of very interesting objects that may yet await discovery in the outer solar system. We are still scratching the edges of that region of the solar system, and I expect many surprises await us with the future deeper surveys.” – Mark Sykes, Direktur Planetary Science Institute (PSI) di Arizona.
Planet X tidaklah menakutkan

Jadi darimana Nibiru ini berasal? Pada tahun 1976 sebuah buku kontroversial berjudul “The Twelfth Planet” atau “Planet Keduabelas” ditulis oleh Zecharian Sitchin. Sitchin telah menerjemahkan tulisan-tulisan kuno Sumeria yang berbentuk baji (bentuk tulisan yang diketahui paling kuno). Tulisan berumur 6000 tahun ini mengungkapkan bahwa ras alien yang dikenal sebagai Anunnaki dari Planet yang disebut Nibiru, mendarat di Bumi. Ringkas cerita, Anunnaki memodifikasi gen primata di Bumi untuk menciptakan homo sapien sebagai budak mereka.

Ketika Anunnaki meninggalkan Bumi, mereka membiarkan kita memerintah Bumi ini hingga saatnya mereka kembali nanti. Semua ini mungkin tampak sedikit fantastis, dan mungkin juga sedikit terlalu detil jika mengingat semua ini merupakan terjemahan harfiah dari tulisan kuno berumur 6000 tahun. Pekerjaan Sitchin ini telah diabaikan oleh komunitas ilmiah sebagaimana metode interpretasinya dianggap imajinatif. Meskipun demikian, banyak juga yang mendengar Sitchin, dan meyakini bahwa Nibiru (dengan orbitnya yang sangat eksentrik dalam mengelilingi Matahari) akan kembali, mungkin pada tahun 2012 untuk menyebabkan semua kehancuran dan terror-teror di Bumi ini. Dari “penemuan” astronomis yang meragukan inilah hipotesa Kiamat 2012 Planet X didasarkan. Lalu, bagaimanakah Planet X dianggap sebagai perwujudan dari Nibiru?
Kemudian terdapat juga “penemuan katai coklat di luar Tata Surya kita” dari IRAS pada tahun 1984 dan “pengumuman NASA akan planet bermassa 4-8 massa Bumi yang sedang menuju Bumi” pada tahun 1933.

Para pendukung hipotesa kiamat ini bergantung pada penemuan astronomis ini sebagai bukti bahwa Nibiru sebenarnya adalah Planet X yang telah lama dicari para astronom selama abad ini. Tidak hanya itu, dengan memanipulasi fakta-fakta tentang penelitian-penelitian ilmiah, mereka “membuktikan” bahwa Nibiru sedang menuju kita (Bumi), dan pada tahun 2012, benda masif ini akan memasuki bagian dalam Tata Surya kita, menyebabkan gangguan gravitasi.

Dalam pendefinisian yang paling murni, Planet X adalah planet yang belum diketahui, yang mungkin secara teoretis mengorbit Matahari jauh di balik Sabuk Kuiper. Jika penemuan beberapa hari lalu memang akhirnya mengarah pada pengamatan sebuah planet atau Plutoid, maka hal ini akan menjadi penemuan luar biasa yang membantu kita memahami evolusi dan karakteristik misterius bagian luar Tata Surya kita.

Sumber: Freenet4all.com
 

Design By SkinCorner | Distributed By FreeAnimeTheme